Terkata tapi kelu, kaku tak bergeming, bergumam cuma dalam senyum, tertawa tapi cuma tawaan.

Punya hati tapi tak punya perasaan, di balut dalam koridor egosentrisme. Ketika hati berkalang bimbang, timbul niatan tanpa pola, terbentuk dari aliran darah melewati tempat yang sama.

Ketika hati berkalang bimbang, cuma kebisuan dan debaran jantung yang berpacu tanpa tau sebabnya.

Wajib Adalah Harus

18 Januari 2009

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, itu pepatah yang sedari dulu kita dengar dari para pendidik atau tuan-tuan guru. Raih lah atau gapai lah pendidikan setinggi mungkin atau kata lain tuntutlah ilmu mulai dari bayi sampai menuju ke liang lahat.

Tapi kenyataannya tak seindah atau tak segaung pepatahnya, karena masih banyakorang muda yang nota bene generasi penerus bangsa dipaksa menggantungkan cita-cita dan harapannya di bangunan, di pabrik, di jalanan, di penjara, bahkan di ranjang pemuas nafsu birahi, akibat dari tingginya biaya hidup.

Program wajib belajar 9 tahun yang dibuat oleh pemerintah tak mampu mengentaskan persoalan yang ada. Wajib adalah harus, jadi setiap orang muda harus mendapatkan pendidikan selama 9 tahun, sungguh mulia hal yang di buat oleh pemerintah, tapi sayang kemuliaan itu hanya sebatas teori belaka, kenyataannya sungguh berbeda.

Bizurai-bizurai dipaksa mangkat muda, pandangannya kedepan tergerus oleh arus komersialisasi pendidikan, tingginya uang sekolah, mahalnya buku sekolah membuat bizurai-bizurai menjadi anestesi terhadap indahnya masa depan. Tak lagi mampu berkata lantang karena harus menghabiskan hidupnya bermandikan peluh di pabrik, jalanan, bahkan penjara.

Dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah terkait masalah dengan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki pondasi kuat di sektor ilmu pengetahuan.

Ini pekerjaan rumah pemerintah yang tidak pernah terselesaikan, Program-program yang dibuat oleh pemerintah tidak akan pernah bisa berjalan, apapun itu, tanpa dilandasi SDM yang menunjang, sementara untuk mencapai SDM yang menunjang harus dilatar belakangi pendidikan yang seimbang. Karena masalah ini sangat krusial.

Sudah saatnya pemerintah berfikir rasional, dan bertindak cepat dalam hal ini, dan sudah saatnya sekarang membangun kembali kejayaan bangsa ini seperti masa silam. Bangunlah Indonesia dengan cara memberikan pendidikan gratis bagi seluruh rakyatnya jangan hanya sampai 9 tahun saja, tapi sampai kejenjang yang lebih tinggi, karena masa depan bangsa ini berada ditangan-tangan mungil anak Indonesia.

aku takut goretan ini menimbulkan luka
aku takut goretan ini menimbulkan amarah
tapi aku lebih takut jika aku tak menggoretkannya
karena hanya dengan goretan inilah aku mampu berkata
goretan tinta luka dalam hati
perih terasa tapi begitu menyenangkan
terpuaskan tapi tak seutuhnya
lega terasa tapi tetap saja mengganjal

Pengharapan

14 Januari 2009

Cintaku mendekatlah kepadaku
dekaplah aku di kejauhan

aku merindumu
serinduku pada saat bersamamu

jika aral jauh tak merintang
tak kering pengharapanku

aku tertahan disini menantimu
menanti penuh pengharapan

karena selatan tak pasti ku datang
mungkin ku tak gadismu lagi

tapi harapku, masih ada serpihan itu
karena di hatiku cuma NAMA mu

Selatan

14 Januari 2009

Bodohnya aku, gumamku dalam hati, tak bisa membaca sinyal yang kau beri, rupanya selatan lah yang kau tunggu selama ini.

Aku kira semuanya tentang selatan telah berakhir dan telah melebur menjadi serpihan-serpihan halus yang menyerupai debu, ternyata aku terperangah.

Tak sedarku, selam ini akulah serpihan-serpihan halus yang terendap, berkamuflase seolah-olah akulah kristal itu.

Sesak ku rasa setelah sadar aku cuma debu yang dengan sekali seka akan hilang begitu saja tanpa mampu memberi bekas.

Tolong, jangan gunakan seka atau kemoceng tuk mengusirku, biarlah angin yang kan meniupku.

Siang itu begitu gerah kurasa udara yang berhembus merasuk rangsek menyusup ke setiap celah yang ada di rumah ku. Tak segar ku rasa angin menyentuh kulit, seperti hendak membakar ku, seolah seakan api yang menjilati.

Siang itu suasana begitu hening, sehingga ku dengar dan ku rasa angin bertiup melambai-lambaikan sejemput kembang yang ada di halaman milik orang yang memang di tanam orang tua ku. Tak segar bunga itu ku lihat, seperti menahan dahaga.

Siang itu tiba-tiba menjadi riuh, terdengar rintihan mengaduh menahan sakit yang mendalam, sesosok lelaki terkulai lemah di pembaringan, memanggil-manggil nama ku, aku langsung bangkit berdiri menghampiri tempat dimana datangnya suara itu.

Siang itu sepertinya kesedihan ku memuncak, seperti gunung berapi yang hendak mengeluarkan lahar, aku tak mampu menahan duka yang di alaminya, aku tak sanggup menatap matanya dalam, kosong, terasa hampa tatapan itu, terpuruk menanti tanda tanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.