Kampanye Menyisakan Sampah
24 Maret 2009
Perhelatan akbar yang dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun sekali ini, ternyata masih banyak menyisakan permasalahan. Pemilihan umum yang banyak orang bilang pestanya demokasi memberikan dampak yang negatif terhadap lingkungan.
Tak ubahnya seperti orang yang sedang berpesta, hura-hura, bersenang-senang tanpa memperdulikan sekelilingnya. Ya….pestanya kaum demokrasi ini menyisakan sampah dimana-mana, efek negatif yang ditinggalkan pesta ini berdampak langsung pada lingkungan, karena usai pesta sampah-sampah ditinggalkan begitu saja.
Jadi Gembar-gembor soal masalah penanganan pemanasan global (Global Warming) cuma isapan jempol belaka. Tidak ada satupun partai politik yang perduli akan masalah yang ditimbulkan usai berkampanye. Setidaknya membentuk team khusus yang menangani masalah sampah usai berorasi.
Partai politik tidak ada yang pernah memberikan pemahaman yang mendasar seputar permasalahan lingkungan kepada kader dan simpatisannya. Konsentrasi parpol hanya tertuju kepada bagaimana cara meraih simpati rakyat guna meraih suara sebesar-besarnya agar dapat memenuhi kuota kursinya dilegislatif maupun pencalonan Presiden, tanpa memikirkan persoalan lain akibat dari kampanye nya.
Akankah permasalahan terus merundung tanpa ada sikap yang tegas dalam prosesnya. Apa sebenarnya fungsi dari Panwaslu…..??
Apakah cuma mengawasi saja proses jalannya kampanye sampai pada hari pemungutan…?
Apakah sampah yang ditinggalkan begitu saja peserta kampanye bukan suatu pelanggaran….!!!
Adakah point-point yang mengatur mengenai pelanggaran terhadap lingkungan semasa kampanye…???
Mungkin para pelakon-pelakon politik ini tidak perduli sama sekali terhadap lingkungan, tidak ada satupun yang menyinggung permasalahan tentang lingkungan.
Gonjang-Ganjing BLT di Seputar Kampanye
24 Maret 2009
Genderang perang sudah ditabuh, perang terbuka sudah dimulai, tiap-tiap jenderal mulai menyusun strategi sembari mempersiapkan senjata tercanggihnya untuk menghancurkan lawan atau musuh-musuhnya.
Ya….Kampanye terbuka telah dumulai para elite dari berbagai macam parpol saling serang dan saling mencerca satu sama lain, seperti yang terjadi pada tiga partai besar di Indonesia mengenai gonjang-ganjing sepiutar BLT.
Berjempet-jempet istilah yang di pakai Megawati, berdesakan hanya untuk mengambil uang sebesar Rp. 200.000,-. Rakyat seperti sudah tidak memiliki kepribadian, harkat dan martabatnya terinjak-injak hanya demi uang, ucap Megawati dalam kampanye di depan simpatisan dan kadernya.
Di lain kesempatan Prabowo Subianto calon presiden yang di usung partai Gerindra mengatakan, uang di bagikan kepada rakyat adalah uang yang dipinjam dari luar negeri, hal ini hanya menambah beban utang negara ujarnya di sela-sela kampanye politiknya.
Sementara juru kampanye nasional yang juga ketua dewan pembina paratai Demokrat mengcover tudingan-tudingan tersebut di hadapan para pendukung dan simpatisannya, pemerintah tak punya hati jika melihat rakyatnya kelaparan, terpuruk dalam kemiskinan, BLT untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Dalam hal ini pemerintah sudah melakukan hal yang tepat dalam mengatasi problematika yang ada, pada pidato politiknya.
Hal inilah yang dilakukan para elite kita ketika berkampanye, saling melemparkan bola panas, saling tuding, saling kritik. Yang jadi pertanyaan adalah pernahkah mereka berpikir tentang bagaimana caranya membangun pola pikir rakyat untuk bersikap positif. Terpikirkah oleh mereka bagaimana cara membangun basis swadaya masyarkat yang mempunyai inisiatif guna mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kalau cuma saling kritik, saling tuding, niscaya bangsa ini tidak akan pernah terlepas dari problematika yang terus merong-rong. Rakyat harus bisa lebih cermat dalam menyikapi persoalan yang ada di negerinya, rakyat harus bisa membangun pola pikirnya dengan kekuatan basis-basis yang dibangun di atas kepentingan bersama tanpa ada campur tangan dari pemerintah.
Sudah saatnya rakyat menentukan perjalanan hidup bangsa dan tanah air ini. Buka mata dan pikiran kita tentang kesehjahteraan akan Indonesia, jangan pernah terlena akan manisnya buaian para penyanyi politik. Ambil, Rengkuh dan Raih, masa depan ada ditangan rakyat.
Ponari cilik memang tak sehebat Ponario Astaman, kemampuan nya juga tak sehabat Ponari besar dalam mengecoh lawan maupun mencetak gol di gawang lawan.
Tapi bocah cilik yang baru duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar ini tak kalah populer dari Ponario Astaman, kemasyhuran nya mengguncang Jombang, dan tak hanya Jombang saja, bahkan sampai ke pelosok bumi Indonesia, terguncang.
Tidak kalah dengan berita tentang persiapan pemilu, kisruh beberapa parpol, berita tentang anak bernama lengkap Muhammad ponari menyeruak memenuhi ruang – ruang pemberitaan di media massa. Popularitas bocah 9 tahun ini mengalahkan hangatnya pentas politik di tanah air. Ponari sangat fenomena
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menolak jika fenomena Ponari diduga akibat mahalnya biaya kesehatan saat ini. Menurut Menkes, pengobatan Ponari adalah suatu fenomena terhadap kepercayaan mistis. Yakni, cerminan dari masyarakat yang sakit dan terbelah di antara modern realistis serta tradisional mistis.
Fenomena itu sebenarnya terjadi karena bobroknya sistem pendidikan di Indonesia, lemahnya fungsi pendidik, dan kurang nya kontrol pemerintah selaku pelaksana pendidikan. di tambah lagi dengan mahalnya ongkos perobatan di rumah sakit swasta maupun pemerintah, juga hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap dunia medis Indonesia.
Hal ini yang mendorong masyarakat yang nota bene-pendidikan rendah-masih hidup dalam sistem primodialisme berbondong-bondong mendatangi kediaman Ponari tuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang di idap.Miris rasanya, hanya dengan metode air putih, penyakit apa saja yang kita idap bisa di sembuhkan.
Kesembuhan memang belum bisa dipastikan. Namun, rezeki batu Ponari kini menjadi rebutan kerabat dan tetangganya. Akibatnya, ayah Ponari dipukul tetangganya. Bahkan, pendidikan Ponari juga terganggu. Sudah sebulan ia tak bersekolah.
Ini merupakan pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah dalam pengentasaan minimnya-pengetahuan-pendidikan masyarakat di Indonesia. Tak hanya itu saja, pemerintah juga harus memperbaiki kecakapan pelaku medis di Indonesia, mulai dari departemen yang menaungi sampai ke struktur yang paling bawah.
Ketika Hati Berkabung Dusta
25 Februari 2009
Sialan, sungguh sial ku rasa, entah apa yang memulai tiba-tiba saja terlontar tuduhan yang tak beralasan.
Mendera meraung-raung seperti hentakan senjata otomatis yang memuntahkan pelurunya.
Membabi buta menembus tembok angkuh hingga memecah heningnya suasana kalbu.
Ku kira cuma gurauan untuk memecah kekosongan.
Ah…sialan….
Tudingan bermuka dua di alamatkan kepada ku, seolah-olah lagi berakting di depan kamera.
Aku tak paham, karena sketsa itu tak pernah ku dapati.
Ku lirik ke kanan dan ke kiri tapi tetap saja tak kudapati orang-orang di balik lensa yang mengatur peran.
Ketika hati berkabung dusta, perasaan di curangi mencuat, melambung, membahana.
Siapa sih yang makan nangka itu, aku maulah mencicipinya walaupun sedikit.
Ketika Hati Berkalang Bimbang
23 Januari 2009
Terkata tapi kelu, kaku tak bergeming, bergumam cuma dalam senyum, tertawa tapi cuma tawaan.
Punya hati tapi tak punya perasaan, di balut dalam koridor egosentrisme. Ketika hati berkalang bimbang, timbul niatan tanpa pola, terbentuk dari aliran darah melewati tempat yang sama.
Ketika hati berkalang bimbang, cuma kebisuan dan debaran jantung yang berpacu tanpa tau sebabnya.
Wajib Adalah Harus
18 Januari 2009
Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, itu pepatah yang sedari dulu kita dengar dari para pendidik atau tuan-tuan guru. Raih lah atau gapai lah pendidikan setinggi mungkin atau kata lain tuntutlah ilmu mulai dari bayi sampai menuju ke liang lahat.
Tapi kenyataannya tak seindah atau tak segaung pepatahnya, karena masih banyakorang muda yang nota bene generasi penerus bangsa dipaksa menggantungkan cita-cita dan harapannya di bangunan, di pabrik, di jalanan, di penjara, bahkan di ranjang pemuas nafsu birahi, akibat dari tingginya biaya hidup.
Program wajib belajar 9 tahun yang dibuat oleh pemerintah tak mampu mengentaskan persoalan yang ada. Wajib adalah harus, jadi setiap orang muda harus mendapatkan pendidikan selama 9 tahun, sungguh mulia hal yang di buat oleh pemerintah, tapi sayang kemuliaan itu hanya sebatas teori belaka, kenyataannya sungguh berbeda.
Bizurai-bizurai dipaksa mangkat muda, pandangannya kedepan tergerus oleh arus komersialisasi pendidikan, tingginya uang sekolah, mahalnya buku sekolah membuat bizurai-bizurai menjadi anestesi terhadap indahnya masa depan. Tak lagi mampu berkata lantang karena harus menghabiskan hidupnya bermandikan peluh di pabrik, jalanan, bahkan penjara.
Dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah terkait masalah dengan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki pondasi kuat di sektor ilmu pengetahuan.
Ini pekerjaan rumah pemerintah yang tidak pernah terselesaikan, Program-program yang dibuat oleh pemerintah tidak akan pernah bisa berjalan, apapun itu, tanpa dilandasi SDM yang menunjang, sementara untuk mencapai SDM yang menunjang harus dilatar belakangi pendidikan yang seimbang. Karena masalah ini sangat krusial.
Sudah saatnya pemerintah berfikir rasional, dan bertindak cepat dalam hal ini, dan sudah saatnya sekarang membangun kembali kejayaan bangsa ini seperti masa silam. Bangunlah Indonesia dengan cara memberikan pendidikan gratis bagi seluruh rakyatnya jangan hanya sampai 9 tahun saja, tapi sampai kejenjang yang lebih tinggi, karena masa depan bangsa ini berada ditangan-tangan mungil anak Indonesia.
Goretan Tinta Luka Dalam Hati
18 Januari 2009
aku takut goretan ini menimbulkan luka
aku takut goretan ini menimbulkan amarah
tapi aku lebih takut jika aku tak menggoretkannya
karena hanya dengan goretan inilah aku mampu berkata
goretan tinta luka dalam hati
perih terasa tapi begitu menyenangkan
terpuaskan tapi tak seutuhnya
lega terasa tapi tetap saja mengganjal
Pengharapan
14 Januari 2009
Cintaku mendekatlah kepadaku
dekaplah aku di kejauhan
aku merindumu
serinduku pada saat bersamamu
jika aral jauh tak merintang
tak kering pengharapanku
aku tertahan disini menantimu
menanti penuh pengharapan
karena selatan tak pasti ku datang
mungkin ku tak gadismu lagi
tapi harapku, masih ada serpihan itu
karena di hatiku cuma NAMA mu
Selatan
14 Januari 2009
Bodohnya aku, gumamku dalam hati, tak bisa membaca sinyal yang kau beri, rupanya selatan lah yang kau tunggu selama ini.
Aku kira semuanya tentang selatan telah berakhir dan telah melebur menjadi serpihan-serpihan halus yang menyerupai debu, ternyata aku terperangah.
Tak sedarku, selam ini akulah serpihan-serpihan halus yang terendap, berkamuflase seolah-olah akulah kristal itu.
Sesak ku rasa setelah sadar aku cuma debu yang dengan sekali seka akan hilang begitu saja tanpa mampu memberi bekas.
Tolong, jangan gunakan seka atau kemoceng tuk mengusirku, biarlah angin yang kan meniupku.
Terpuruk Menanti Tanda Tanya
8 Januari 2009
Siang itu begitu gerah kurasa udara yang berhembus merasuk rangsek menyusup ke setiap celah yang ada di rumah ku. Tak segar ku rasa angin menyentuh kulit, seperti hendak membakar ku, seolah seakan api yang menjilati.
Siang itu suasana begitu hening, sehingga ku dengar dan ku rasa angin bertiup melambai-lambaikan sejemput kembang yang ada di halaman milik orang yang memang di tanam orang tua ku. Tak segar bunga itu ku lihat, seperti menahan dahaga.
Siang itu tiba-tiba menjadi riuh, terdengar rintihan mengaduh menahan sakit yang mendalam, sesosok lelaki terkulai lemah di pembaringan, memanggil-manggil nama ku, aku langsung bangkit berdiri menghampiri tempat dimana datangnya suara itu.
Siang itu sepertinya kesedihan ku memuncak, seperti gunung berapi yang hendak mengeluarkan lahar, aku tak mampu menahan duka yang di alaminya, aku tak sanggup menatap matanya dalam, kosong, terasa hampa tatapan itu, terpuruk menanti tanda tanya.